TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Prapancha Research (PR) menemukan
bahwa
nasi goreng,
rendang, dan
sate lebih terkenal secara
global dibanding rata-rata masakan yang berasal dari Asia melalui jejaring
sosial, Twitter.
Nasi goreng adalah yang paling banyak diperbincangkan di jejaring sosial
dengan 2,3 juta perbincangan di luar Indonesia, diikuti
rendang dengan 1,1 juta perbincangan di luar Indonesia.
Selanjutnya adalah
sate dengan 533 ribu
perbincangan di luar Indonesia. Sementara untuk masakan mancanegara, tom yam di
luar Thailand memperoleh hanya 254 ribu perbincangan, bulgogi dan bibimbap di
luar Korea masing-masing memperoleh 210 ribu dan 162 ribu perbincangan.
“Kami membandingkannya dengan tom yam, makanan terkenal khas dari Thailand.
Bulgogi, masakan daging tersohor dari Korea. Lalu bibimbap, nasi campur dari
negara yang sama, yang jauh tertinggal dibandingkan pembicaraan tentang masakan
Indonesia” ujar Cindy Herlin Marta, analis PR.
Semua makanan ini juga pernah masuk ke dalam daftar 50 makanan terlezat
dunia versi jajak pendapat CNN tahun 2011. Di daftar tersebut,
rendang dan
nasi goreng secara berurutan menempati peringkat pertama
dan kedua.
“Selama ini kita mungkin mengira masakan negara-negara Asia lainnya lebih
memikat hati orang-orang mancanegara. Namun sebagai negara yang sama-sama belum
memiliki gerai makanan sebanyak masakan Cina dan Jepang, masakan Indonesia
berada di posisi yang lebih unggul,” ujar Cindy.

Sayangnya, banyak di antara warga dunia yang menikmati makanan asal
Indonesia tersebut di restoran Cina atau restoran umum yang menyediakan
masakan-masakan Asia. Gerai makanan Indonesia memang terbilang langka di
mancanegara. Akibatnya, menjadi hal yang lazim jika orang-orang asing cenderung
mengira
nasi goreng,
sate, atau
rendang berasal dari
Thailand, Singapura, atau Malaysia, imbuh Cindy.
Namun demikian, ketimbang meributkan atau mengkhawatirkan masakan kita
diklaim negara tetangga, Cindy menilai akan lebih produktif seandainya berbagai
langkah bisa dilakukan untuk membantu pendirian dan pengembangan gerai-gerai
masakan Indonesia di berbagai negara.
Bila Indonesia diikutsertakan dalam pantauan, total perbincangan
sate di Twitter akan mencapai 8,6 juta perbincangan,
nasi goreng 5,4 juta perbincangan, dan
rendang 2,5 juta perbincangan.
Jumlah perbincangan
sate dan
nasi goreng bahkan melampaui perbincangan lasagna, masakan
internasional asal Italia, yang perbincangannya mencapai 3,8 juta, dan
mendekati spaghetti yang mencapai 9 juta. Bahkan perbincangan bibimbap dan
bulgogi di luar Korea sendiri, paling banyak kedua adalah di Indonesia (bulgogi
40 ribu, bibimbap 26 ribu).
Fakta ini menunjukkan juga bahwa Indonesia adalah pasar komoditas kuliner
yang sangat potensial. "Dengan dukungan pasar dalam negeri yang kuat,
ekspansi adalah hal yang semestinya dilakukan untuk kian memajukan industri
kuliner Indonesia," tegas Cindy.
Pemerintah Thailand, sebagai contoh, sudah sejak lama mendorong
internasionalisasi kulinernya dengan kampanye “Thailand, Dapurnya Dunia”.
Pemerintah menyediakan pusat pelatihan, informasi, serta peminjaman dana bagi
mereka yang ingin membuka gerai makanan Thailand di negara lain.
“Nilai strategis ekspansi ini berlimpah: memperkuat kebanggaan nasional,
mengundang turis ke tanah air, membuka pasar ekspor bahan pangan, mendatangkan
devisa, mendorong pertumbuhan ekonomi. Saya kira, tidak ada alasan bagi
pihak-pihak terkait, pemerintah maupun swasta, untuk melewatkan kesempatan
ini,” kata Cindy.